Senin, 24 Agustus 2015

Anjuran Islam; Bolehkah Bertanya Tentang Masa Lalu (Aib) Istri?

Mempertanyakan Kejujuran Calon Pasangan.

Assalamualaikum
    Saya adalah laki-laki yang ingin segera menikahi calon saya setelah dia lulus kuliah. Saya sudah bertunangan. Saya adalah orang yang sangat setia, tetapi saya pernah diselingkuhi oleh pasangan saya, dia mempunyai hubungan dengan pria lain dan saya sering dibohongi. Kemudian saya memberikan ketegasan kepada calon saya tersebut sampai akhirnya dia minta maaf kepada saya dan dihadapan orang tua saya. Sebab rasa sayang  yang besar dan keinginan untuk menjadi imamnya yang bisa membimbingnya, saya masih mempertahankan hubungan ini. Tetapi saya tidak melihat perubahan sikapnya dan hati saya belum lega. Masih saja terbersit curiga. Ketika saya nanti menikah dengan dia, saya ingin membuatnya jujur apa yg telah dia perbuat selama dia berhubungan dengan pria lain. Apakah sampai berbuat mendekati zina atau tidak. Saya sangat ingin kejujuran walaupun itu pahit. Saya ingin nanti menanyainya dan saya juga akan sampaikan jika dia ternyata pernah berbuat mendekati zina dan tidak dia katakan jujur kepada saya sebagai suaminya, saya tidak akan ridho dunia akhirat. Pertanyaan saya,Bagaimana pandangan Islam tentang langkah saya ini?
Terima kasih.
Assalamualaikum wr.wb.

~

Wa ‘alaikumus salam. :)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

    Islam menganjurkan agar masing-masing individu merahasiakan setiap dosa dan kesalahan yang dia lakukan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ْﻦَﻣ َﺏﺎَﺻَﺃ ْﻦِﻣ ِﻩِﺬَﻫ ِﺕﺍَﺭﻭُﺫﺎَﻘْﻟﺍ ﺎًﺌْﻴَﺷ ْﺮِﺘَﺘْﺴَﻴْﻠَﻓ ِﺮْﺘِﺴِﺑ ِﻪَّﻠﻟﺍ
“Siapa yang tertimpa musibah maksiat dengan melakukan perbuatan semacam ini (perbuatan zina), hendaknya dia menyembunyikannya, dengan kerahasiaan yang Allah berikan.” ( HR. Malik dalam Al-Muwatha’, no. 1508).

    Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras, menceritakan perbuatan maksiat yang pernah dia lakukan dalam kondisi sendirian. Menceritakan maksiat bisa menjadi sebab, Allah tidak memaafkan kesalahannya.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ُّﻞُﻛ ﻰِﺘَّﻣُﺃ َّﻻِﺇ ﻰًﻓﺎَﻌُﻣ َﻦﻳِﺮِﻫﺎَﺠُﻤْﻟﺍ ، َّﻥِﺇَﻭ َﻦِﻣ ِﺭﺎَﻬْﺟِﻹﺍ َﻞَﻤْﻌَﻳ ْﻥَﺃ ُﻞُﺟَّﺮﻟﺍ ِﻞْﻴَّﻠﻟﺎِﺑ ًﻼَﻤَﻋ ، َّﻢُﺛ َﺢِﺒْﺼُﻳ ْﺪَﻗَﻭ ُﻩَﺮَﺘَﺳ ُﻪَّﻠﻟﺍ ، َﻝﻮُﻘَﻴَﻓ ﺎَﻳ ُﻥَﻼُﻓ ُﺖْﻠِﻤَﻋ ﺍَﺬَﻛ َﺔَﺣِﺭﺎَﺒْﻟﺍ ﺍَﺬَﻛَﻭ ، ْﺪَﻗَﻭ َﺕﺎَﺑ ُﻩُﺮُﺘْﺴَﻳ ُﻪُّﺑَﺭ ُﺢِﺒْﺼُﻳَﻭ ُﻒِﺸْﻜَﻳ َﺮْﺘِﺳ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻪْﻨَﻋ
"Semua umatku akan diampuni, kecuali orang yang terang-terangan melakukan maksiat. Termasuk bentuk terang-terangan maksiat, seseorang melakukan maksiat di malam hari, Allah tutupi sehingga tidak ada yang tahu, namun di pagi hari dia bercerita,
‘Hai Fulan, tadi malam saya melakukan perbuatan maksiat seperti ini..’
Malam hari Allah tutupi kemaksiatanya, pagi harinya dia singkap tabir Allah yang menutupi maksiatnya. (HR. Bukhari 6069 & Muslim 7676)

   Oleh karena itu, islam menganjurkan agar setiap muslim berusaha menutupi dan merahasiakan aib saudarannya. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ْﻦَﻣَﻭ َﺮَﺘَﺳ ﺎًﻤِﻠْﺴُﻣ ُﻩَﺮَﺘَﺳ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰِﻓ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ِﺓَﺮِﺧﻵﺍَﻭ
Siapa yang menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. (HR. Bukhari 2442, Muslim 7028, dan yang lainnya).

     Islam juga memberikan ancaman keras, bagi orang yang suka mencari-cari aib orang lain.

    Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma , beliau menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah naik mimbar dan bersabda,
ْﻦَﻣ َﻊَّﺒَﺘَﺗ ِﻪﻴِﺧَﺃ َﺓَﺭْﻮَﻋ ِﻢِﻠْﺴُﻤْﻟﺍ َﻊَّﺒَﺘَﺗ ُﻪَّﻠﻟﺍ ْﻦَﻣَﻭ ُﻪَﺗَﺭْﻮَﻋ َﻊَّﺒَﺘَﺗ ُﻪَّﻠﻟﺍ ُﻪَﺗَﺭْﻮَﻋ ُﻪْﺤَﻀْﻔَﻳ ْﻮَﻟَﻭ ﻰِﻓ ِﻪِﻠْﺣَﺭ ِﻑْﻮَﺟ
"Siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim, Allah akan mencari-cari aibnya. Dan siapa yang Allah cari aibnya, akan Allah permalukan meskipun dia berada di dalam rumahnya. (HR. Turmudzi 2164 dan dinilai hasan shahih oleh al-Albani).

    Islam tidak pernah mengajarkan tradisi buka-bukaan. Islam juga tidak menganjurkan agar calon pasangan suami istri untuk saling menceritakan masa lalunya. Yang akan menghisab amal istri bukan suami, demikian pula istri tidak bisa menghisab amal yang pernah dikerjakan suaminya.

Tidak Manfaat!

Apa manfaatnya masing-masing harus menceritakan dengan jujur masa silamnya setelah menikah?
Jika suami tidak terima dengan perbuatan buruk yang pernah dilakukan istrinya di masa silam, akankah suami akan memberikan pahala bagi amal baik istrinya di masa silam? Jika orang mau adil, seharusnya ini seimbang.

    Sebaliknya, jika istri tidak terima dengan perbuatan buruk yang pernah dilakukan suaminya, akankah dia akan memberikan pahala untuk amal soleh yang dilakukan suaminya?

    Masa silam sudah berlalu. Baik suami istri jujur maupun bungkam tidak menceritakan, kejadian itu takkan bisa dihapus. Justru cerita yang anda dengar, akan menyayat hati anda sebagai pasangannya.

* Masa Silam, Pertimbangan Sebelum Menikah.*

    Benar, masa silam bisa dijadikan pertimbangan sebelum para calon ini naik ke pelaminan. Dengan ini, masing-masing bisa menentukan langkah, lanjutkan atau lupakan.

   Pertama , Jika calon suami bersedia menerima calon istri dengan semua latar belakangnya, dan masing-masing menunjukkan perubahan untuk menjadi baik, bisa dilanjutkan ke jenjang pernikahan. Tugas dia selanjutnya, lupakan masa silam masing-masing, jangan lagi diungkit.

   Kedua , Jika calon suami masih keberatan menerima latar belakang calon istrinya, atau selalu dibayang-bayangi kesedihan, atau kepercayaan kepada calon istri belum bisa tertanam, sangat disarankan agar tidak dilanjutkan, dari pada kebahagiaan keluarga harus tersandra dengan kecurigaan.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Hukuman Untuk Pelaku Homo.

Hukuman Untuk Pelaku Homo.

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

   Manusia pertama yang melakukan perkawinan sejenis adalah umatnya Nabi Luth ‘alaihis shalatu was salam .

Allah berfirman,
ﺎًﻃﻮُﻟَﻭ ْﺫِﺇ َﻝﺎَﻗ ِﻪِﻣْﻮَﻘِﻟ ْﻢُﻜَّﻧِﺇ َﻥﻮُﺗْﺄَﺘَﻟ َﺔَﺸِﺣﺎَﻔْﻟﺍ ﺎَﻣ ْﻢُﻜَﻘَﺒَﺳ ﺎَﻬِﺑ ْﻦِﻣ ٍﺪَﺣَﺃ َﻦِﻣ َﻦﻴِﻤَﻟﺎَﻌْﻟﺍ
“Ingatlah Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya, kalian telah melakukan al-fahisyah, yang belum pernah dilakukan seorang pun di alam ini.‘ ” (Q.s. Al-Ankabut:28)

    Dan mereka dikenal sebagai umat yang sangat bejat. Saking bejatnya, sampai nurani yang baik itu hilang. Hingga terjadilah kemaksiatan yang sangat menjijikkan ini. Sebelum zaman Nabi Luth, sudah ada umat yang dibinasakan oleh Allah. Seperti kaumnya Nabi Nuh, kaum ‘Ad, dan kaum Tsamud. Namun mereka belum melakukan pelanggaran homo semacam ini.
Karena itulah, Allah meghukum umatnya Nabi Luth, dengan hukuman yanng sangat berat, yang belum pernah diberikan kepada orang kafir lainnya. Buminya dijungkir, lalu mereka dilempari batu.

    Dan jika kita perhatikan dalam al-Quran, ternyata Allah memberikan hukuman kepada umatnya Luth dengan empat hukuman sekaligus,

Pertama , Dibutakan matanya
Di surat al-Qamar ayat 33, Allah berfirman,
ْﺖَﺑَّﺬَﻛ ُﻡْﻮَﻗ ِﺭُﺬُّﻨﻟﺎِﺑ ٍﻁﻮُﻟ
“Kaumnya Luth telah mendustakan peringatan.”

Kemudian, di ayat 37 Allah berfirman,
ْﺪَﻘَﻟَﻭ ُﻩﻭُﺩَﻭﺍَﺭ ْﻦَﻋ ﺎَﻨْﺴَﻤَﻄَﻓ ِﻪِﻔْﻴَﺿ ْﻢُﻬَﻨُﻴْﻋَﺃ ﺍﻮُﻗﻭُﺬَﻓ ﻲِﺑﺍَﺬَﻋ ِﺭُﺬُﻧَﻭ
“Sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.” (QS. Al-Qamar: 37).

    Diceritakan dalam buku sirah, ketika lelaki kaum Luth berusaha untuk masuk ke rumah Nabi Luth, karena ingin merebut tamu Luth yang ganteng-ganteng – malaikat yang berubah wujud manusia – maka keluarlah Jibril. Lalu beliau memukul wajah mereka semua dengan ujung sayapnya. Seketika mereka jadi buta. Akhirnya mereka menabrak tembok, hingga mereka bisa kembali ke rumahnya sendiri. Mereka mengancam Luth, besok akan datang lagi dan mengadakan perhitungan dengan Luth. (Fabihudahum Iqtadih, hlm. 257).

Kedua , Allah kirimkan suara yang sangat keras
Alllah berfirman,
ُﻢُﻬْﺗَﺬَﺧَﺄَﻓ ُﺔَﺤْﻴَّﺼﻟﺍ َﻦﻴِﻗِﺮْﺸُﻣ
“Mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit.” (QS. Al-Hijr: 73).

    Suara itu sangat keras, datang memekakkan telinga mereka, di saat matahari terbit. Di saat, bumi mereka telah diangkat.

Ketiga , Bumi yang mereka tempati diangkat dan dibalik
Allah berfirman,
َﺀﺎَﺟ ﺎَّﻤَﻠَﻓ ﺎَﻧُﺮْﻣَﺃ ﺎَﻨْﻠَﻌَﺟ ﺎَﻬَﻴِﻟﺎَﻋ ﺎَﻬَﻠِﻓﺎَﺳ ﺎَﻧْﺮَﻄْﻣَﺃَﻭ ﺎَﻬْﻴَﻠَﻋ ًﺓَﺭﺎَﺠِﺣ ْﻦِﻣ ٍﻞﻴِّﺠِﺳ ٍﺩﻮُﻀْﻨَﻣ
“Tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Hud: 82).

    Sesungguhnya Jibril mengangat seluruh wilayah kampung ini dari bumi, diangkat dengan sayapnya hingga sampai ke langit dunia. Hingga penduduk langit dunia mendengar lolongan anjing mereka dan kokok ayam. Kemudian dibalik. Karena itu, Allah sebut mereka dengan al-Muktafikah, terbalik kepala dan kakinya.
Lalu dilempar kembali ke tanah.

Allah berfirman,
َﺔَﻜِﻔَﺗْﺆُﻤْﻟﺍَﻭ ﻯَﻮْﻫَﺃ
“Al-Muktafikah (negeri-negeri kaum Luth) yang dilempar ke bawah.” (QS. an-Najm: 53)

Keempat , Dihujani dengan batu
Allah berfirman,
ﺎَﻬَﻴِﻟﺎَﻋ ﺎَﻨْﻠَﻌَﺠَﻓ ﺎَﻬَﻠِﻓﺎَﺳ ﺎَﻧْﺮَﻄْﻣَﺃَﻭ ًﺓَﺭﺎَﺠِﺣ ْﻢِﻬْﻴَﻠَﻋ ْﻦِﻣ ٍﻞﻴِّﺠِﺳ
Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. (QS. Al-Hijr: 74).

Setiap batu ada namanya. Allah menyebutnya,
ًﺔَﻣَّﻮَﺴُﻣ َﻚِّﺑَﺭ َﺪْﻨِﻋ َﻦﻴِﻓِﺮْﺴُﻤْﻠِﻟ
“Yang diberi nama oleh Rabmu untuk membinasakan orang-orang yang melampaui batas.” (QS. ad-Dzariyat: 34).

<hr/>Hukuman Dunia. <hr/>

   Cerita di atas berkaitan hukuman yang Allah berikan kepada kaum Luth. Selanjutnya, ketika ini terjadi pada umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hukuman apa yang berlaku untuk mereka?
Terdapat beberapa hadis yang menjelaskan hukuman pelaku homo,

Pertama , mereka mendapatkan laknat

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
َﻦَﻌَﻟ ُﻪَّﻠﻟﺍ ْﻦَﻣ َﻞِﻤَﻋ ِﻡْﻮَﻗ َﻞَﻤَﻋ ٍﻁﻮُﻟ ، َﻦَﻌَﻟ ُﻪَّﻠﻟﺍ ْﻦَﻣ َﻞِﻤَﻋ َﻞَﻤَﻋ ِﻡْﻮَﻗ ٍﻁﻮُﻟ ، ﺎًﺛﻼَﺛ
"Allah melaknat manusia yang melakukan perbuatan homo seperti kaum Luth… Allah melaknat manusia yang melakukan perbuatan homo seperti kaum Luth… 3 kali. (HR. Ahmad 2915 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

   Kedua , dihukum bunuh, baik yang jadi subjek maupun objek.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ْﻦَﻣ ُﻞَﻤْﻌَﻳ ُﻩﻮُﻤُﺗْﺪَﺟَﻭ ِﻡْﻮَﻗ َﻞَﻤَﻋ ٍﻁﻮُﻟ ﺍﻮُﻠُﺘْﻗﺎَﻓ َﻞِﻋﺎَﻔْﻟﺍ َﻝﻮُﻌْﻔَﻤْﻟﺍَﻭ ِﻪِﺑ
“Siapa menjumpai orang yang melakukan perbuatan homo seperti kelakuan kaum Luth maka bunuhlah pelaku dan objeknya!” (HR. Ahmad 2784, Abu Daud 4462, dan disahihkan al-Albani).

    Mereka Berbeda Pendapat Tentang Cara Membunuhnya
Ibnul Qoyim menyebutkan riwayat dari Khalid bin Walid Radhiyallahu ‘anhu .
Ketika beliau diberi tugas oleh Khalifah Abu Bakr Radhiyallahu ‘anhu untuk memberangus pengikut nabi-nabi palsu, di pelosok jazirah arab, Khalid menjumpai ada lelaki yang menikah dengan lelaki. Kemudian beliau mengirim surat kepada Khalifah Abu Bakar.

Kita simak penuturan Ibnul Qoyim,
ﺭﺎﺸﺘﺳﺎﻓ ﻮﺑﺃ ﺮﻜﺑ ﻖﻳﺪﺼﻟﺍ ﺔﺑﺎﺤﺼﻟﺍ ﻲﺿﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻢﻬﻨﻋ ﻥﺎﻜﻓ ﻰﻠﻋ ﻦﺑ ﻲﺑﺃ ﺐﻟﺎﻃ ﻢﻫﺪﺷﺃ ﻻﻮﻗ ﻪﻴﻓ ﺎﻣ ﻝﺎﻘﻓ ﻞﻌﻓ ﺬﻫ ﻻﺍ ﺔﻣﺃ ﻢﻣﻷﺍ ﻦﻣ ﺓﺪﺣﺍﻭ ﺪﻗﻭ ﻢﺘﻤﻠﻋ ﺎﻣ ﻞﻌﻓ ﻪﻠﻟﺍ ﻯﺭﺃ ﺎﻬﺑ ﻥﺃ ﻕﺮﺤﻳ ﺭﺎﻨﻟﺎﺑ ﺐﺘﻜﻓ ﻮﺑﺃ ﺮﻜﺑ ﺪﻟﺎﺧ ﻰﻟﺍ ﻪﻗﺮﺤﻓ
Abu Bakr as-Shiddiq bermusyawarah dengan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum . Ali bin Abi Thalib yang paling keras pendapatnya. Beliau mengatakan,
“Kejadian ini hanya pernah dilakukan oleh satu umat, dan kalian telah mengetahui apa yang Allah lakukan untuk mereka. Saya mengusulkan agar mereka dibakar.”

   Selanjutnya Abu Bakr mengirim surat kepada Khalid, lalu beliau membakar pelaku pernikahan homo itu.

Ibnul Qoyim melanjutkan pendapat Ibnu Abbas,
ﻝﺎﻗﻭ ﺪﺒﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻦﺑ ﺱﺎﺒﻋ ﺮﻈﻨﻳ ﻥﺍ ﻼﻋﺃ ﺎﻣ ﻲﻓ ﺔﻳﺮﻘﻟﺍ ﻰﻣﺮﻴﻓ ﻰﻃﻮﻠﻟﺍ ﺎﻬﻨﻣ ﺎﺴﻜﻨﻣ ﻢﺛ ﻊﺒﺘﻳ ﺓﺭﺎﺠﺤﻟﺎﺑ ﺬﺧﺃﻭ ﻦﺑﺍ ﺱﺎﺒﻋ ﺍﺬﻫ ﺪﺤﻟﺍ ﻦﻣ ﺔﺑﻮﻘﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﺔﻴﻃﻮﻠﻟ ﻡﻮﻗ ﻁﻮﻟ
Sementara Ibnu Abbas mengatakan,
“Lihat tempat yang paling tinggi di kampung itu. Lalu pelaku homo dileparkan dalam kondisi terjungkir. Kemudian langsung disusul dengan dilempari batu.”

    Ibnu Abbas berpendapat demikian, karena inilah hukuman yang Allah berikan untuk pelaku homo dari kaumnya Luth. (al-Jawab al-Kafi, hlm. 120)
JIL Merasa Bangga
Semenjak mahmakah agung AS melegalkan perkawinan sesama jenis, sontak orang jil meneriakkan kemenangan bagi mereka. Bendera pelangi dikibarkan. Harapan yang telah lama mereka perjuangkan, telah diwujudkan. Jika sekarang di AS, proyek selanjutnya dibumikan di Indonesia. Dan itu menjadi cita-cita besar Bu Siti Musdah, yang dinobatkan sebagai profesor di UIN Jakarta.

   Kita bisa simak hasil wawancara dengannya, yang sempat diuanggah di beberapa media,
”Esensi ajaran agama adalah memanusiakan manusia, menghormati manusia dan memuliakannya. Tidak peduli apa pun ras, suku, warna kulit, jenis kelamin, status sosial dan orientasi seksualnya. Bahkan, tidak peduli apa pun agamanya.”

    Dia juga mengatakan,
“Bahkan, menarik sekali membaca ayat-ayat Al-Qur’an soal hidup berpasangan (Ar-Rum, 21; Az-Zariyat 49 dan Yasin 36) di sana tidak dijelaskan soal jenis kelamin biologis, yang ada hanyalah soal gender (jenis kelamin sosial). Artinya, berpasangan itu tidak mesti dalam konteks hetero, melainkan bisa homo, dan bisa lesbian. Maha Suci Allah yang menciptakan manusia dengan orientasi seksual yang beragam.”

   Sebenarnya Bu Musdah sudah lama geram dengan masyarakat yang hanya mengakui perkawinan berlainan jenis kelamin (heteroseksual). Menurutnya, agama yang hidup di masyarakat sama sekali tidak memberikan pilihan kepada manusia.

   ”Dalam hal orientasi seksual misalnya, hanya ada satu pilihan, heteroseksual. Homoseksual, lesbian, biseksual dan orientasi seksual lainnya dinilai menyimpang dan distigma sebagai dosa. Perkawinan pun hanya dibangun untuk pasangan lawan jenis, tidak ada koridor bagi pasangan sejenis.”

   Saya kira tidak perlu diperbanyak.
Tapi itulah kelakuan JIL. Karenanya orang kafir merasa sangat berutang budi kepada mereka. Melalui mulut dan tangan mereka, orang kafir bisa dengan mudah menyusupkan pemikiran sesat di tengah kaum muslimin, tanpa modal besar.

   Oleh karena itu,di tahun 2007, pemerintah Amerika Serikat menganugerahi Bu Musdah dengan penghargaan ”International Women of Courage Award”. Penghargaan internasional untuk wanita pemberani.

   Tidak bisa kita bayangkan, andai komplotan JIL ini hidup di zaman Abu Bakr as-Shiddiq. Mungkin mereka turut dibakar oleh Ali bin Abi Thalib
Radhiyallahu ‘anhu.

Allahu a’lam.


Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Minggu, 23 Agustus 2015

Buta karena Komunitas (Loyalitas Karena Allah Atau Sekadar Fanatisme?)

Komunitas Tak Jelas.

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

    Setiap komunitas, menanamkan loyalitas. Mereka saling mencintai, saling membantu, saling menolong, saling membela, karena mereka satu komunitas.

    Mereka bisa melakukan seperti itu, karena mereka memiliki satu ikatan yang sama. Mereka saling mencintai dan saling membela, karena kesamaan itu.Yang menjadi masalah adalah ikatan apa yang melatar belakangi terjalinnya komunitas itu?

    Ada banyak ragam kesamaan, yang membuat manusia membangun komunitas.Ada yang membangun komunitas, karena ikatan batu akik. Mereka saling mencintai dan saling membela, karena satu kesamaan, penggemar batu akik.

    Ada yang membangun komunitas karena Moge. Mereka saling mencintai dan saling membela, karena satu kesamaan, pemilik moge.

    Ada juga yang membangun komunitas karena mobil VW.Mereka saling mencintai dan saling membela, karena satu kesamaan, pemilik VW.

     Pun ada komunitas yang dibentuk karena kamera. Mereka saling mencintai dan saling membela, karena satu kesamaan, sama-sama penggemar fotografi.

    Meskipun ada yang membangun komunitas karena islam. Mereka saling mencintai dan saling membela, karena satu kesamaan, mereka muslim ahlus sunah.

    Dan masih banyak aneka ikatan komunitas yang dibentuk masyarakat.

    Kita tentu yakin, semua yang kita lakukan ini tidak ada yang sia-sia. Semua akan dipertanggung jawabkan kelak di yaumul akhir. Sampai pun kegiatan ber-komunitas yang kita lakukan.

Allah menegaskan,
ْﻞَﻤْﻌَﻳ ْﻦَﻤَﻓ َﻝﺎَﻘْﺜِﻣ ٍﺓَّﺭَﺫ ﺍًﺮْﻴَﺧ ُﻩَﺮَﻳ ْﻦَﻣَﻭ . ْﻞَﻤْﻌَﻳ َﻝﺎَﻘْﺜِﻣ ٍﺓَّﺭَﺫ ﺍًّﺮَﺷ ُﻩَﺮَﻳ

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula."

    Isi surat az-Zalzalah. Inilah yang menjadi keyakinan kita. Sekecil apapun yang kita lakukan, akan dipertanggung jawabkan. Terlebih, dalam masalah loyalitas, di sana ada amal besar yang seharusnya diperhatikan. Bahkan para ulama mencamtumkannya dalam pembahasan aqidah. Itulah al-Wala’ wal Bara’.

    Islam mengajarkan kepada kita, agar sikap loyalitas yang kita bangun, dilakukan atas dasar islam. Loyalitas, karena Allah ta’ala. Mereka saling mencintai dan saling membela, karena Allah.
Ada banyak keutamaan, ketika seseorang membangun loyalitas karena Allah.

    Pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai amal yang paling utama
Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ِﻝﺎَﻤْﻋَﻷﺍ ُﻞَﻀْﻓَﺃ ُّﺐُﺤْﻟﺍ ﻰِﻓ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﺾْﻐُﺒْﻟﺍَﻭ ﻰِﻓ ِﻪَّﻠﻟﺍ

“Amal yang paling afdhal adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Ahmad 21909, Abu Daud 4601 dan dishahihkan al-Albani).

    Kedua, Allah berikan janji, orang yang membangun loyalitas dengan sesamanya karena Allah, akan diberi naungan kelak di hari kiamat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

َّﻥِﺇ َﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﻘَﻳ َﻡْﻮَﻳ ِﺔَﻣﺎَﻴِﻘْﻟﺍ َﻦْﻳَﺃ َﻥﻮُّﺑﺎَﺤَﺘُﻤْﻟﺍ ﻰِﻟَﻼَﺠِﺑ َﻡْﻮَﻴْﻟﺍ ْﻢُﻬُّﻠِﻇُﺃ ﻰِﻓ ﻰِّﻠِﻇ َﻡْﻮَﻳ َﻻ َّﻞِﻇ َّﻻِﺇ ﻰِّﻠِﻇ

Allah berfirman pada hari kiamat, “Dimanakah orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini akan Aku naungi dia, di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR. Ahmad 7432 & Muslim 6713).

    Ketiga, amalan ini dibanggakan di hari kiamat, hingga para nabi iri kepadanya.

Dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

َّﻥِﺇ ْﻦِﻣ ِﺩﺎَﺒِﻋ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﺎًﺳﺎَﻧُﻷ ﺎَﻣ ْﻢُﻫ َﺀﺎَﻴِﺒْﻧَﺄِﺑ َﻻَﻭ َﺀﺍَﺪَﻬُﺷ ُﻢُﻬُﻄِﺒْﻐَﻳ ُﺀﺍَﺪَﻬُّﺸﻟﺍَﻭ ُﺀﺎَﻴِﺒْﻧَﻷﺍ َﻡْﻮَﻳ ِﺔَﻣﺎَﻴِﻘْﻟﺍ ْﻢِﻬِﻧﺎَﻜَﻤِﺑ َﻦِﻣ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَﻟﺎَﻌَﺗ

"Ada diantara manusia biasa hamba Allah, yang mereka buka nabi, bukan pula para syuhada. Namun para nabi dan para syuhada, iri kepadanya pada hari kiamat, karena kedudukan mereka yang dekat di sisi Allah Ta’ala."

“Ya Rasulullah, sampaikan kepada kami, siapakah mereka?” tanya para sahabat.

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan,

ْﻢُﻫ ﺍﻮُّﺑﺎَﺤَﺗ ٌﻡْﻮَﻗ ِﺡﻭُﺮِﺑ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ ِﺮْﻴَﻏ ٍﻡﺎَﺣْﺭَﺃ ْﻢُﻬَﻨْﻴَﺑ َﻻَﻭ ٍﻝﺍَﻮْﻣَﺃ ﺎَﻬَﻧْﻮَﻃﺎَﻌَﺘَﻳ

"Mereka adalah orang yang saling mencintai karena Allah, bukan karena hubungan kerabat, bukan pula karena harta benda yang mereka miliki. (HR. Abu Daud 352, Ibn Hibban 573 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

    Allahu akbar… betapa agungnya janji indah Allah untuk amalan ini. Loyal karena Allah. saling mencintai dan saling membela, karena Allah.

    Di saat yang sama, islam juga melarang, manusia membangun fanatisme karena suku dan golongan. Karena ini sumber perpecahan kaum muslimin.

    Mereka diikat dengan satu ikatan agama, namun mereka bercerai karena ikatan ormas dan komunitas.

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan mengancam, jika ada orang yang mati karena berjuang membela suku, kelompok, ormasnya, maka dia mati jahiliyah. Artinya, mati dalam kondisi membawa dosa.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ْﻦَﻣ َﻞَﺗﺎَﻗ َﺖْﺤَﺗ ٍﺔَﻳﺍَﺭ ٍﺔَّﻴِّﻤُﻋ ﻮُﻋْﺪَﻳ ﻰَﻟِﺇ ٍﺔَّﻴِﺒَﺼَﻋ ْﻭَﺃ ُﺐَﻀْﻐَﻳ ٍﺔَّﻴِﺒَﺼَﻌِﻟ َﻞِﺘُﻘَﻓ ٌﺔَﻠْﺘِﻘَﻓ ٌﺔَّﻴِﻠِﻫﺎَﺟ

"Siapa yang berjuang di bawah bedera ‘immiyah’, mengajak masyarakat kepada fanatisme kelompok, membela fanatisme kelompok, lalu dia terbunuh, maka dia mati jahiliyah. (HR. Ahmad 8164, Muslim 4892, dan yang lainnya).

    Makna bendera ‘Immiyah’. Kita simak keterangan Ibnul Atsir,
Kata Immiyah mengikuti wazan fi’liyah, dari kata al-‘Ama’ [ﺀﺎﻤﻌﻟﺍ], yang artinya kesesatan. Seperti orang yang berperang karena fanatisme golongan dan hawa nafsu. (an-Nihayah, 3/304)

Kata Fuad Abdul Baqi mellanjutkan keterangan Ibnul Atsir,

ﻝﺎﺘﻘﻟﺎﻛ ﻲﻓ ﺔﻴﺒﺼﻌﻟﺍ ﺀﺍﻮﻫﻷﺍﻭ ﻲﻫﻭ ﺮﻣﻷﺍ ﻱﺬﻟﺍ ﻻ ﻦﻴﺒﺘﺴﻳ ﻪﻬﺟﻭ . ﻮﻫﻭ ﺔﻳﺎﻨﻛ ﻦﻋ ﺔﻋﺎﻤﺟ ﻦﻴﻌﻤﺘﺠﻣ ﻰﻠﻋ ﺮﻣﺃ ﻝﻮﻬﺠﻣ ﻻ ﻑﺮﻌﻳ ﻪﻧﺃ ﻖﺣ ﻭﺃ ﻞﻃﺎﺑ

"Seperti orang yang berperang karena fanatisme golongan dan hawa nafsu, yang urusannya tidak jelas arahnya. Ini merupakan isyarat tentang sekelompok kominitas yang diikat dengan sesuatu tak jelas. Dia tidak tahu, apakah itu benar atau bathil. (Hasyiyah Ibnu Majah, untuk hadis no. 3948)

    Apa yang bisa kita bayangkan, ketika di hari kiamat kita diadili kemudian ditanya, mengapa kamu membela fulan? Akankah kita menjawabnya,
Karena kita sama-sama punya moge…
Karena kita sama-sama punya VW…
Karena kita sama-sama penggemar akik…
Karena kita sama-sama orang lamongan…??!

    Komunitas Hanya Komunitas
Jika anda menjamin, komunitas ini hanya terkait masalah dunia, maka jangan sampai terbangun loyalitas dan fanatisme. Hingga saling mencintai dan saling membela karena ikatan tidak jelas.

    Pokoknya yang ada di komunitas ini akan dibela, apapun agamanya, bahkan sekalipun dia melanggar. Sekalipun harus berhadapan dengan tuntutan di pengadilan. Ini jelas loyalitas.
Karena itu, seharusnya komunitas hanya dijadikan alat bantu. Saling membantu melengkapi kekurangan yang kita butuhkan.

    Anda penganut komunitas mobil tua, boleh saja berkumpul dengan sesama penggemar mobil tua. Sehingga ketika ada bagian sparepart yang anda butuhkan, anda tidak perlu susah mencarinya.

Allahu a’lam.

Sumber dari artikel  oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Mengapa Al Qur 'an berbahasa Arab?

Mengapa al-Quran Berbahasa Arab?

    Ada mahasiswa yang bertanya, mengapa Allah turunkan al-Quran dengan bahasa arab? Bukankah ketika itu banyak bahasa lain. Apa sisi istimewanya bhs arab?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

    Tidak salah jika kita awali dengan menelusuri latar belakang pertanyaan ini.Kita bisa menangkap, ada dua kemungkinan latar belakang ketika orang mempertanyakan, mengapa Allah menurunkan al-Quran dengan bahasa arab?

   Dua kemungkinan itu bisa jadi terpuji, atau sebaliknya, bisa jadi sangat tercela.

    Bukan hal yang aneh.Terkadang ada satu perbuatan yang memiliki nilai berkebalikan, kembali kepada niat pelakunya. Sebagai contoh, mengambil barang temuan.

    Jika dia mengambil untuk dikembalikan ke pemiliknya, statusnya al-amin (orang yang amanah). Sehingga ketika barang ini rusak di luar keteledorannya, dia tidak wajib ganti rugi.

    Sebaliknya, ketika dia mengambil dengan tujuan untuk memilikinya, statusnya al-Ghasib (orang yang merampas). Dia berdosa dan jika barang ini rusak di tangannya, wajib ganti rugi.

    Kita kembali kepada pertanyaan di atas.

    Ada dua kemungkinan yang melatar belakangi pertanyaan ini,
Pertama , dalam rangka mempertanyakan dan ‘menggugat’, mengapa Allah memilih bahasa arab untuk al-Quran. Apa istimewanya orang arab, sampai bahasanya digunakan untuk al-Quran?

    Kedua , dalam rangka menggali hikmah, mengapa Allah memilih bahasa arab untuk kitab terakhirnya. Sehingga dengan memahami ini, kita akan semakin cinta dengan bahasa arab yang menjadi bahasa al-Quran. Dan tentu saja, ini tujuan mulia. Menggali hikmah yang bisa dijangkau manusia, agar semakin cinta dengan Dzat Yang Maha Hikmah.

   Menggugat Entitas Bahasa Arab
Bagi sebagian orang yang sentimen dengan semua yang berbau ‘arab’, keberadaan al-Quran yang berbahasa arab, menjadi masalah besar baginya. Bahkan bahasa arab, dijadikan celah untuk menggugat keotentikan al-Quran.
Terutama kelompok liberal yang selalu menjadi masalah di masyarakat.
  
    Mereka melakukan upaya yang dikenal dengan desakralisasi al-Quran. Propaganda untuk meragukan kesucian al-Quran.
Salah satunya, sebuah tesis yang diterbitkan UIN suka 2004, yang berjudul Menggugat Otentisitas (keotentikan) Wahyu Tuhan. Penulis dengan terang-terangan menolak kesucian al-Quran.

     Di tahun 2011, penulis menerbitkan buku dengan judul,
Arah Baru Studi Ulum Al-Quran: Memburu Pesan Tuhan di Balik Fenomena Budaya. Di buku inilah, penulis dengan terang-terangan menegaskan bahwa al-Quran yang ada di tangan kaum muslimin, sudah tidak lagi otentik. Alasan utamanya, karena al-Quran berbahasa arab.

    Kita bisa simak kutipan pernyataannya,
“Wahyu sebagai pesan otentiks Tuhan masih memuat keseluruhan pesan Tuhan. Al-Qur’an sebagai wujud konkret pesan Tuhan dalam bentuk bahasa Arab oral memuat kira-kira sekitar 50 persen pesan Tuhan. Dan Mushaf Usmani sebagai wujud konkret pesan Tuhan dalam bentuk bahasa Arab tulis hanya memuat kira-kira tiga puluh persen pesan Tuhan. Jika selama menjadi wahyu masih memuat keseluruhan pesan Tuhan, tidak demikian halnya ketika telah menjadi Al-Quran dan Mushaf Usmani. (hlm.vii).

    Dia juga menulisakan,
”Ketika pesan Tuhan diwadahkan ke dalam bahasa Arab itu, maka Muhammad sebagai agen tunggal Tuhan yang juga sebagai masyarakat Arab, memilih lafaz dan makna tertentu yang mampu memuat dua pesan, yakni pesan Tuhan dan pesan masyarakat Arab sebagai pemilik bahasa Arab.” (hlm. viii)

    Dengan membaca sekali, siapapun akan menilai bahwa sejatinya orang ini telah menuduh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdusta. Karena ada 50% pesan wahyu yang hilang, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan al-Quran kepada para sahabat.

Padahal Allah telah menegaskan di surat an-Najm,

ﺎَﻣَﻭ ُﻖِﻄْﻨَﻳ ِﻦَﻋ ﻯَﻮَﻬْﻟﺍ ‏( ‏) ْﻥِﺇ َﻮُﻫ ﺎَّﻟِﺇ ٌ
ﻲْﺣَﻭ ﻰَﺣﻮُﻳ

“ Muhammad tidaklah berbicara berdasarkan hawa nafsunya. Semua itu adalah wahyu yang disampaikan kepadanya .” (QS. an-Najm: 3 – 4)

   Mereka juga menuduh sahabat Utsman, yang menyatukan al-Quran dengan bahasa Quraisy. Hingga mereka menganggap bahwa al-Quran adalah alat untuk mewujudkan hegemoni Quraisy bagi dunia. Dalam salah satu jurnal yang diterbitkan IAIN semarang th. 2003, di pengantar redaksinya ditegaskan: ”Dan hanya orang yang mensakralkan Qur’anlah yang berhasil terperangkap siasat bangsa Quraisy tersebut.”

    Sebenarnya tidak jauh jika kita menyebut mereka telah mendustakan firman Allah, yang menyatakan bahwa Allah menjaga al-Quran yang Dia turunkan,

ﺎَّﻧِﺇ ُﻦْﺤَﻧ ﺎَﻨْﻟَّﺰَﻧ َﺮْﻛِّﺬﻟﺍ ﺎَّﻧِﺇَﻭ ُﻪَﻟ َﻥﻮُﻈِﻓﺎَﺤَﻟ

“ Akulah yang menurunkan al-Qur’an dan Aku sendiri yang akan menjaganya.” (QS. al-Hijr: 9).

   Dan bagi kita tidak Aneh, ketika pemikiran nyeleneh semacam ini muncul di universitas yang merupakan kantong liberal.
Barangkali akan sangat memeras tenaga jika kita harus mencurahkan banyak pikiran untuk membantahnya. Siapapun anda, bisa membantahnya dengan logika yang sangat sederhana.
Kita semua mengakui, ketika al-Quran diturunkan, tentu ada banyak bahasa yang digunakan manusia. Ada bahasa arab, ada bahasa persi, bahasa romawi, di belahan timur ada bahasa cina, dst.

    Satu pertanyaan, dengan bahasa yang mana, yang seharusnya digunakan al-Quran, agar kitab ini sesuai dengan selera penggemar liberal yang anti bahasa arab?

    Berdasarkan prinsip di atas, apapun bahasa yang digunakan al-Quran, tidak akan lepas dari kritikan para liberal itu. Karena pada dasarnya, inti dari kritikan itu bukan di bahasanya, tapi karena ini kebenaran. Dan mereka dihadirkan, untuk memerangi kebenaran.

    Hikmah al-Quran Diturunkan Berbahasa Arab Selanjutnya kita akan membahas pertanyaan kedua, apa hikmah, Allah menurunkan al-Quran berbahasa arab? Berangkat dari sini, kita akan menggali sisi keistimewaan bahasa arab, sehingga Allah memilihnya sebagai bahasa al-Quran.

    Sebelum melihat sisi keistimewaan bahasa arab, satu hal penting yang perlu kita tanamkan, bahwa Allah menciptakan segala sesuatu di alam ini dan Allah yang paling berhak untuk memilih siapa diantara makhluknya yang memiliki keunggulan melebihi yang lain. Ada milayaran manusia. Tentu saja, derajat mereka tidak sama. Allah berhak memilih, siapa diantara mereka yang berhak menjadi nabi dan rasul.
Ada ribuan bahasa di alam ini. dan Allah berhak memilih bahasa mana yang paling layak untuk kitab-Nya.

   Kita yang hanya berposisi sebagai hamba, hanya bisa menerima, dan saja sama sekali tidak berhak mengkritik. Allah ajarkan dalam firman-Nya,

َﻚُّﺑَﺭَﻭ ُﻖُﻠْﺨَﻳ ﺎَﻣ ُﺀﺎَﺸَﻳ ُﺭﺎَﺘْﺨَﻳَﻭ ﺎَﻣ َﻥﺎَﻛ ُﻢُﻬَﻟ ُﺓَﺮَﻴِﺨْﻟﺍ

“ Tuhanmu menciptakan apa saja yang Dia kehendaki dan Dia memilih (sesuai yang Dia kehendaki). Mereka tidak bisa menentukan pilihan.” (QS. al-Qashas: 68)

   Maka, alur berfikir yang benar terkait realita al-Quran, bukan bertanya apa kelebihan bahasa arab, sehingga Allah memilihnya untuk bahasa al-Quran. Akan tetapi, cara berfikir yang tepat, bahwa dengan Allah memilih bahasa arab sebagai bahasa al-Quran, itu sudah sangat cukup untuk menjadi dasar yang menunjukkan bahasa arab memiliki banyak kelebihan.
Kelebihan Bahasa Arab
Allah menyebut bahasa arab dengan bahasa yang al-Mubin, yang artinya bahasa yang bisa menjelaskan.

Allah berfirman,
ٍﻥﺎَﺴِﻠِﺑ ٍّﻲِﺑَﺮَﻋ ٍﻦﻴِﺒُﻣ

“Al-Quran itu turun dengan bahasa arab yang mubin.” (QS. as-Syu’ara: 195).

Ibnu Faris (w. 395) – salah satu ulama bahasa – menyatakan,

َّﺺَﺧ ﺎﻤﻠﻓ – ﻞﺟ ﻩﺅﺎﻨﺛ َﻥﺎﺴﻠﻟﺍ – َّﻲﺑﺮﻌﻟﺍ ،ِﻥﺎﻴﺒﻟﺎﺑ َﻢِﻠُﻋ ﻥﺃ ﺮﺋﺎﺳ ﺕﺎﻐﻠﻟﺍ ٌﺓﺮﺻﺎﻗ ،ﻪﻨﻋ ﺔﻌﻗﺍﻭﻭ ﻪﻧﻭﺩ

"Ketika Allah Ta’ala memilih bahasa arab untuk menjelaskan (firman-Nya), menunjukkan bahwa bahasa-basaha yang lainnya, kemampuan dan tingkatannya di bawah bahasa arab. "( as-Shahibi fi Fiqh al-Lughah , 1/4).

    Diantara sisi penunjangnya, bahasa arab merupakan bahasa yang sangat tua dan terjaga. Dan semakin tua sebuah bahasa, akan semakin kaya dengan kosakata, semakin sempurna gramatikalnya dan banyak simbol-simbol makna.

As-Suyuthi memuji kekayaan linguistik dalam bahasa arab,
ﺎَّﻧﻷ ﻮﻟ ﺎﻨﺠﺘﺣﺍ ﻰﻟﺇ ْﻥﺃ ﺮﺒﻌﻧ ﻦﻋ ِﻒﻴﺴﻟﺍ ﻪﻓﺎﺻﻭﺃﻭ ِﺔﻐﻠﻟﺎﺑ ،ﺔﻴﺳﺭﺎﻔﻟﺍ ﺎﻤﻟ ﺎﻨﻨﻜﻣﺃ ﻚﻟﺫ ﻻﺇ ٍﻢﺳﺎﺑ ؛ﺪﺣﺍﻭ ﻦﺤﻧﻭ ُﺮﻛﺬﻧ ِﻒﻴﺴﻠﻟ ﺔﻴﺑﺮﻌﻟﺎﺑ ٍﺕﺎﻔﺻ ،ﺓﺮﻴﺜﻛ ﻚﻟﺬﻛﻭ ﺪﺳﻷﺍ ﺱﺮﻔﻟﺍﻭ ﺎﻤﻫﺮﻴﻏﻭ ﻦﻣ ِﺀﺎﻴﺷﻷﺍ ﺀﺎﻤﺳﻷﺎﺑ ﺕﺎﻴﻤﺴﻤﻟﺍ ،ﺔﻓﺩﺍﺮﺘﻤﻟﺍ ﻦﻳﺄﻓ ﺍﺬﻫ ﻦﻣ !؟ﻙﺍﺫ ُﺮﺋﺎﺳ ﻦﻳﺃﻭ ﺕﺎﻐﻠﻟﺍ ﻦﻣ ﺎﻣ ِﺔﻌَّﺴﻟﺍ !؟ﺏﺮﻌﻟﺍ ِﺔﻐﻠﻟ ﺍﺬﻫ ﺎﻣ ﻻ َﺀﺎﻔﺧ ﻪﺑ ﻰﻠﻋ ﻱﺫ ﺔﻴﻬُﻧ
"Ketika kita hendak mengungkapkan kata pedang dengan bahasa persi, kita tidak akan bisa menceritakannya kecuali hanya dengan satu kata. Sementara kita bisa menyebut kata ‘pedang’ berikut sifat-sifatnya dengan banyak ungkapan dalam bahasa arab. Demikian pula kata ‘singa’ dan ‘kuda’ atau kata lainnya yang memiliki banyak sinonim. Sehingga bagaimana mungkin dua bahasa ini mau dibandingkan?! Bahasa mana yang lebih luas dari pada bahasa arab ?! semua orang yang berilmu mengetahuinya. ( al-Mazhar fi Ulum al-Lughah, 1/254).

   Syiar Islam dan Kunci Memahami Syariat
Mengingat Al-Quran berbahasa arab, hadis berbahasa arab, khazanah islam yang menjadi kara para ulama, berbahasa arab, maka bahasa arab menjadi kunci untuk memahami itu semua. Karena itulah, para sahabat menekankan agar umat islam berusaha memahami bahasa arab.

Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu pernah berpesan,
؛َﺔﻴﺑﺮﻌﻟﺍ ﺍﻮﻤَّﻠﻌﺗ ﺎﻬﻧﺈﻓ ﻦﻣ ﻢﻜِﻨﻳﺩ
“ Pelajarilah bahasa arab, karena bahasa ini bagian dari agama kalian. ” (Idhah al-Waqf, Ibnul Anbari , 1/31)

    Umar juga pernah memerintahkan gubernurnya, Abu Musa al-Asy’ari untuk mengajarkan bahasa arab kepada penduduk Iraq,
ﺎَّﻣﺃ ،ﺪﻌﺑ ﺍﻮﻬﻘﻔﺘﻓ ﻲﻓ ،ِﺔﻨﺴﻟﺍ ﺍﻮﻬﻘﻔﺗﻭ ﻲﻓ ،ﺔﻴﺑﺮﻌﻟﺍ ﺍﻮُﺑِﺮْﻋَﺃﻭ َﻥﺁﺮﻘﻟﺍ ﻲﺑﺮﻋ ﻪﻧﺈﻓ
“Pelajarilah sunah dan pelajarilah bahasa arab. Pahami al-Quran dengan bahasa arab. Karena kitab ini berbahasa arab.” (Mushannaf Ibn Abi Syaibah, 30534).

    Ada jutaan karya ulama yang semuanya berbahasa arab dan belum diterjemahkan. Tidak mungkin anda menunggu terjemahannya untuk bisa anda baca. Bahkan ribuan kitab itu, tidak mungkin diterjemahkan. Karena karya semacam ini, bukan konsumsi mereka yang tidak paham bahasa arab.

Syaikhul Islam menjelaskan,
َّﻥﺇ ﻪﻠﻟﺍ ﺎﻤﻟ ﻝﺰﻧﺃ ﻪَﺑﺎﺘﻛ ﻥﺎﺴﻠﻟﺎﺑ ،ﻲﺑﺮﻌﻟﺍ ﻞﻌﺟﻭ ﻪَﻟﻮﺳﺭ ﺎًﻐﻠﺒﻣ ﻪﻨﻋ ﺏﺎﺘﻜﻟﺍ ﺔﻤﻜﺤﻟﺍﻭ ﻪﻧﺎﺴﻠﺑ ،ﻲﺑﺮﻌﻟﺍ ﻞﻌﺟﻭ ﻦﻴﻘﺑﺎَّﺴﻟﺍ ﻰﻟﺇ ﺍﺬﻫ ﻦﻳﺪﻟﺍ ﻦﻴﻤِّﻠﻜﺘﻣ ،ﻪﺑ ﻢﻟﻭ ﻦﻜﻳ ﻞﻴﺒﺳ ﻰﻟﺇ ﻂﺒﺿ ِﻦﻳِّﺪﻟﺍ ﻪﺘﻓﺮﻌﻣﻭ ﻻﺇ ﻂﺒﻀﺑ ،ﻥﺎﺴﻠﻟﺍ ﺍﺬﻫ ﺕﺭﺎﺻ ﻪﺘﻓﺮﻌﻣ ﻦﻣ ،ﻦﻳِّﺪﻟﺍ ﺏﺮﻗﺃﻭ ﻰﻟﺇ ِﺔﻣﺎﻗﺇ ﺮﺋﺎﻌﺷ …ﻦﻳﺪﻟﺍ

"Allah Ta’ala menurunkan kitabnya berbahasa arab. Allah menunjuk Rasul-Nya untuk menyampaikan al-Quran dan sunah juga berbahasa arab. Allah juga menunjuk para sahabat yang pertama masuk islam, mereka berbicara dengan bahasa arab. Sementara tidak ada cara untuk memahami agama ini dengan benar, selain dengan memahami bahasa arab. Untuk itu, mempelajari bahasa arab, bagian dari mengamalkan ajaran agama, dan jalan paling dekat untuk menegakkan syiar agama… (al-Iqtidha , 1/450).

    Tidak Paham Bahasa Arab, Sebab Kesesatan
Ribuan aliran sesat, salah satu sebabnya, mereka menafsirkan al-Quran dan sunah, tanpa didukung kaidah bahasa yang benar. Ahmadiyah meyakini adanya nabi palsu, karena mereka memahami kata ‘Khatam an-nabiyin’ dengan cincin para nabi, dan bukan penghujung para nabi. Ldii menilai sesat selain anggota kelompoknya, karena kata muttashil dalam periwayatan hadis, dibawa pada pembelajaran dan dakwah, yang itu tidak pada tempatnya. Mu’tazilah dan kelompok penerusnya menolak hadis ahad, karena salah paham dengan kata ‘dzan’. Dai MTA menghalalkan anjing, tikus, karena menelan ‘istisna’’ mentah-mentah.

   Benarlah apa yang disampaikan Imam Ayub as-Sikhtiyani – ulama tabiin – (w. 131 H),
ﺔﻣﺎﻋ ﻦﻣ ﻕﺪﻧﺰﺗ ﻦﻣ ﻞﻫﺃ ﻕﺍﺮﻌﻟﺍ ﻢﻬﻠﻬﺠﻟ ﺔﻴﺑﺮﻌﻟﺎﺑ
“Umumnya orang yang menyimpang mengikuti aliran sesat di kalangan penduduk Irak, karena mereka tidak paham bahasa arab.” (Khutbah al-Kitab , Abu Syamah, hlm. 63).

    Keterangan lain disampaikan Imam Ibnu Syihab az-Zuhri – ulama tabiin, muridnya Abu Hurairah –,
ﺎﻤﻧﺇ ﺄﻄﺧﺃ ﺱﺎﻨﻟﺍ ﻲﻓ ﺮﻴﺜﻛ ﻞﻳﻭﺄﺗ ﻦﻣ ﻥﺁﺮﻘﻟﺍ ﻢﻬﻠﻬﺠﻟ ﺔﻐﻠﺑ ﺏﺮﻌﻟﺍ
"Banyak masyarakat yang salah dalam mentakwilkan al-Quran, sebabnya adalah karena mereka tidak paham bahasa arab. ( Khutbah al-Kitab , Abu Syamah, hlm. 63).

Hasan al-Bashri – ulama tabiin –,
ﻢﻬﺘﻜﻠﻫﺃ ﺔﻤﺠﻌﻟﺍ ﻥﻮﻟﻭﺄﺘﻳ ﻥﺁﺮﻘﻟﺍ ﻰﻠﻋ ﺮﻴﻏ ﻪﻠﻳﻭﺄﺗ
"Mereka sesat karena bahasa selain arab. Mereka mentakwil al-Quran, tidak sesuai takwil yang benar. (Syarh Mukhtashar ar-Raudhah , at-Thufi).

   Cinta Ulama Terhadap Bahasa Arab. Kita akan simak, bagaimana syahwat para ulama terhadap bahasa arab.
Kita lihat beberapa keteragan dari mereka.

Keterangan as-Sya’bi – ulama Tabiin, muridnya Usamah, Abu Hurairah –,
ﻮﺤﻨﻟﺍ ﻲﻓ ﻢﻠﻌﻟﺍ ِﺢﻠﻤﻟﺎﻛ ﻲﻓ ﻡﺎﻌﻄﻟﺍ ﻻ ﻰﻨﻐﺘﺴُﻳ ﻪﻨﻋ
"Nahwu dalam ilmu itu seperti garam dalam makanan. Selalu dibutuhkan. ( Jami Bayan al-Ilmi , 2/325).

Keterangan Muhammad bin Hasan – gurunya Imam as-Syafii –,
ﻒَّﻠﺧ ﻲﺑﺃ ﻦﻴﺛﻼﺛ ﻒﻟﺃ ،ﻢﻫﺭﺩ ُﺖﻘﻔﻧﺄﻓ ﺎﻬَﻔﺼﻧ ﻰﻠﻋ ِﻮﺤﻨﻟﺍ ،ﻱﺮﻟﺎﺑ ُﺖﻘﻔﻧﺃﻭ ﻲﻗﺎﺒﻟﺍ ﻰﻠﻋ ﻪﻘﻔﻟﺍ
"Ayahku meninggalkan warisan untukku 30.000 dirham (sekitar 12,75 kg emas). Separuhnya, saya gunakan untuk belajar nahwu di kota Roy. Sisinya saya gunakan untuk belajar Fiqh. " (al-Ibar fi Khabar, 1/56).

Keterangan Abu Raihan al-Bairuni,
ْﻥﻷ ﻢَﺘﺷُﺃ ِﺔﻴﺑﺮﻌﻟﺎﺑ ﺮﻴﺧ ﻦﻣ ﻥُﺃ َﺡﺪﻣﺃ ﺔﻴﺳﺭﺎﻔﻟﺎﺑ
“Saya dihina dengan bahasa arab, lebih baik dari pada saya dipuji pake bahasa persi.”

    Sebab Beliau merasa sangat senang bahasa arab terdengar di telinga beliau, sekalipun bentuknya kelimat celaan.

    Imam as-Syafii dan Bahasa Arab
Ada banyak keterangan Imam as-Syafii terkait bahasa arab. Yang menunjukkan bagaimana beliau sangat mencintai bahasa arab. Kita simak beberapa keterangan beliau.

Ilmu nahwu, kunci semua ilmu,
ﻦﻣ َّﺮَﺤَﺒﺗ ﻰﻓ ﻮﺤﻨﻟﺍ ﻯﺪﺘﻫﺍ ﻰﻟﺇ ﻞﻛ ﻡﻮﻠﻌﻟﺍ
“Siapa yang menguasai nahwu, dia dimudahkan untuk memahami seluruh ilmu.” (Syadzarat ad-Dzahab, hlm. 1/321).

Jawaban fiqh dengan kaidah nahwu,
ﻻ ُﻝَﺄﺳُﺃ ٍﺔﻟﺄﺴﻣ ﻦﻋ ﻦﻣ ﻞﺋﺎﺴﻣ ِﻪﻘﻔﻟﺍ ﻻﺇ ُﺖْﺒَﺟﺃ ﺎﻬﻨﻋ ﻦﻣ ِﺪﻋﺍﻮﻗ ﻮﺤﻨﻟﺍ
“Tidaklah aku ditanya tentang satu permasalahan fikih, selain aku jawab dengan kaidah nahwu.” (Syadzarat ad-Dzahab, hlm. 1/321).
Rajin belajar nahwu, agar bisa memahami fiqh,

ﺎﻣ ُﺕﺩﺭﺃ -ﺎﻬﺑﻻﺇ-ﺔﻴﺑﺮﻌﻟﺍ:ﻰﻨﻌﻳ ﺔﻧﺎﻌﺘﺳﻻﺍ ﻰﻠﻋ ﻪﻘﻔﻟﺍ
“Tidaklah aku serius mempelajari nahwu, selain karena aku gunakan untuk membantu mempelajari fikih.” (Siyar A’lam an-Nubala, 10/75).

    Sudah saatnya kita mencintai bahasa arab, dan membuktikan cinta itu dengan mempelajarinya.
Allahu a’lam

" Ustadz Ammi Nur Baits "(Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)