Kamis, 30 Juni 2016

Qunut Shubuh Menurut Pendapat Empat Madzab.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin pernah ditanya: Bagaimana pendapat empat Imam Madzhab mengenai qunut?

Syaikh rahimahullah menjawab:
"Pendapat imam madzhab dalam masalah qunut adalah sebagai berikut."

Pertama : Ulama Malikiyyah
Mereka berpendapat bahwa tidak ada qunut kecuali pada shalat shubuh saja. Tidak ada qunut pada shalat witir dan shalat-shalat lainnya.

Kedua : Ulama Syafi’iyyah
Mereka berpendapat bahwa tidak ada qunut dalam shalat witir kecuali ketika separuh akhir dari bulan Ramadhan. Dan tidak ada qunut dalam shalat lima waktu yang lainnya selain pada shalat shubuh dalam setiap keadaan (baik kondisi kaum muslimin tertimpa musibah ataupun tidak, -pen). Qunut juga berlaku pada selain shubuh jika kaum muslimin tertimpa musibah (yaitu qunut nazilah).

Ketiga : Ulama Hanafiyyah
Disyariatkan qunut pada shalat witir. Tidak disyariatkan qunut pada shalat lainnya kecuali pada saat nawaazil yaitu kaum muslimin tertimpa musibah, namun qunut nawaazil ini hanya pada shalat shubuh saja dan yang membaca qunut adalah imam, lalu diaminkan oleh jama’ah dan tidak ada qunut jika shalatnya munfarid (sendirian).

Keempat: Ulama Hanabilah (Hambali)
Mereka berpendapat bahwa disyari’atkan qunut dalam witir. Tidak disyariatkan qunut pada shalat lainnya kecuali jika ada musibah yang besar selain musibah penyakit. Pada kondisi ini imam atau yang mewakilinya berqunut pada shalat lima waktu selain shalat Jum’at.

    Sedangkan Imam Ahmad sendiri berpendapat, tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan qunut witir sebelum atau sesudah ruku’.

     Inilah pendapat para imam madzhab. Namun pendapat yang lebih kuat, tidak disyari’atkan qunut pada shalat fardhu kecuali pada saat nawazil (kaum muslimin tertimpa musibah). Adapun qunut witir tidak ada satu hadits shahih pun dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan beliau melakukan qunut witir. Akan tetapi dalam kitab Sunan ditunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan Al Hasan bin ‘Ali bacaan yang diucapkan pada qunut witir yaitu “ Allahummah diini fiiman hadayt … ”. Sebagian ulama menshahihkan hadits ini [1] .

    Jika seseorang melakukan qunut witir, maka itu baik. Jika meninggalkannya, juga baik.
Hanya Allah yang memberi taufik. (Ditulis oleh Syaikh Muhammad Ash Sholih Al ‘Utsaimin, 7/ 3/ 1398) [2]

      Adapun mengenai qunut shubuh secara lebih spesifik, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin menjelaskan dalam fatwa lainnya. Beliau pernah ditanya: “Apakah disyari’atkan do’a qunut witir (Allahummah diini fiiman hadayt …) dibaca pada raka’at terakhir shalat shubuh?”

    Beliau rahimahullah menjelaskan: “Qunut shubuh dengan do’a selain do’a ini (selain do’a “Allahummah diini fiiman hadayt …”), maka di situ ada perselisihan di antara para ulama. Pendapat yang lebih tepat adalah tidak ada qunut dalam shalat shubuh kecuali jika di sana terdapat sebab yang berkaitan dengan kaum muslimin secara umum. Sebagaimana apabila kaum muslimin tertimpa musibah -selain musibah wabah penyakit-, maka pada saat ini mereka membaca qunut pada setiap shalat fardhu. Tujuannya agar dengan do’a qunut tersebut, Allah membebaskan musibah yang ada.”

Apakah perlu mengangkat tangan dan mengaminkan ketika imam membaca qunut shubuh?

     Dalam lanjutan perkataannya di atas, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan:
“Oleh karena itu, seandainya imam membaca qunut shubuh, maka makmum hendaklah mengikuti imam dalam qunut tersebut. Lalu makmum hendaknya mengamininya sebagaimana Imam Ahmad rahimahullah memiliki perkataan dalam masalah ini. Hal ini dilakukan untuk menyatukan kaum muslimin.
Adapun jika timbul permusuhan dan kebencian dalam perselisihan semacam ini padahal di sini masih ada ruang berijtihad bagi umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka ini selayaknya tidaklah terjadi. Bahkan wajib bagi kaum muslimin –khususnya para penuntut ilmu syar’i- untuk berlapang dada dalam masalah yang masih boleh ada perselisihan antara satu dan lainnya. ” [3]

    Dalam penjelasan lainnya, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin mengatakan, “Yang lebih tepat makmum hendaknya mengaminkan do’a (qunut) imam. Makmum mengangkat tangan mengikuti imam karena ditakutkan akan terjadi perselisihan antara satu dan lainnya. Imam Ahmad memiliki pendapat bahwa apabila seseorang bermakmum di belakang imam yang membaca qunut shubuh, maka hendaklah dia mengikuti dan mengamini do’anya. Padahal Imam Ahmad berpendapat tidak disyari’atkannya qunut shubuh sebagaimana yang sudah diketahui dari pendapat beliau. Akan tetapi, Imam Ahmad rahimahullah memberikan keringanan dalam hal ini yaitu mengamini dan mengangkat tangan ketika imam melakukan qunut shubuh. Hal ini dilakukan karena khawatir terjadinya perselisihan yang dapat menyebabkan renggangnya hati (antar sesama muslim).” [4]

Hanya Allah yang memberi taufik.

(Artikel kutipan silahkan kunjungi web asli—rumaysho—untuk mendapat lebih banyak ilmu ya.)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel https://rumaysho.com

[1] Hadits ini diriwayakan oleh At Tirmidzi, Abu Daud, An Nasa-i, Ibnu Majah, dan Ad Darimiy. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dalm Misykatul Mashobih 1273 [20].
[2] Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Ibnu ‘Utsaimin , 14/97-98, Asy Syamilah
[3] idem, 14/78
[4] idem, 14/80

Selasa, 28 Juni 2016

Lahir dari Masa Lalu.

     Masa lalu,banyak hal yang tertoreh di hati karena masa itu. Ada yang manis ada juga yang menorehkan luka. Ya,tapi apa bagusnya masa lalu? Toh itu tidak akan pernah Nisa diulang lagi.

   Ada banyak jiwa-jiwa yang terluka karena hal itu. Ada juga yang menyesal pernah melalui masa lalu. Sebab masa lalunya bukan hal yang pantas dikenang bahkan lumayann memalukan.

     seseorang pernah mengajariku satu hal—aku tidak akan melupakan itu walau hanya berupa kata-kata. Dia bilang,"Masa lalu biarlah tetap pada tempatnya,tidak perlu disesali dan jangan sampai diulangi lagi. "

     Awalnya aku kesal dengan perkataan paman itu. Kenapa dia mengacaukan lamunanku. Tapi saat sudah berpisah dengan paman itu—karana pindah kerja—aku baru tahu ucapannya benar. Tidak ada hal yang perlu disesali dari masa lalu.

"Kemarin sudah basi,hari ini harus diisi dan esok lebih Indah lagi Insya Allah. "

Mungkin penyesalan akan selalu menghantui,maka itu sebagai muslim yang baik haruslah pandai-pandai menimbang apa yang dia kerjakan.

Ya,dan saya sedang berusaha menjadi muslim yang baik. Berusaha berpikir sebelum bertindak, sebab apa yang kita kerjakan akan dipertanggung jawabkan di yaumul akhir.

Banyak hal yang saya sesali begitu tumbuh semakin dewasa dan menua. Hampir semua hal yang berlalu membuat saya menyesal. Ya itu cukup menyesakkan dada dan menyedihkan. Banyak hal yang terjadi pada saya karena nyali yang ciut,tidak berani bertindak dan berpikiran sempit.

Namun Alhamdulillah, terima Kasih kepada Allah shubhana wa ta'ala yang membuat saya lebih kuat. Untuk pertama kali saya membuat keputusan sendiri. Melangkah mantap walau jujur waktu itu khawatir akan beberapa hal.

Tapi,apalah artinya itu jika tekad sudah bulat? 

Berbekal gaji terakhir, aku melancong sendirian ke Jakarta. Ya,bukan hal hebat menurut orang lain. Tapi bagi anka perempuan sepertiku,yang hidupnya selalu dikhawatirkan ibu nya dalam setiap kedipan —ini merupakan hal yang keren dan penuh tantangan.

Bertemu orang baru,pengalaman baru, juga sahabat lain yang selalu semangat dan Indah di mataku.

Dan aku benar-benar mampu melupakan masa lalu saat itu.

Kecuali pria yang aku sukai sejak ,entah aku lupa... karena sebagian dariku sudah berubah dan memori mulai terkikis.

Sampai sekarang kadang masih memikirkan dia. Ah,bukan hal yang pantas dilakukan bahkan itu haram karena dia bukanlah mukhrim.

Kabar terakhir dia tinggal menunggu Wisuda di tahun terakhirnya... ehm,di sebuah universitas Muhammadiyah di Jawa Tengah. Jurusan pendidikan Sastra Bahasa Inggris, fakultas keguruan.

Aku berharap dia selalu Tersenyum seperti aku yang penuh senyuman. Dari lubuk hati yang terdalam aku berdoa agar apa yang dia cita-citakan tercapai. Meski mungkin bukan denganku dia akan berbagi senyum. :)  ya,sebab masa depan itu hal yang ghaib. Walau kadang berharap dia bagian dari masa depanku.

Tapi,harapan hanya harapan. Masa depan ada digenggaman Nya.

Yang pasti tetap teguh dalam penantian kalau takdir Allah itu yang paling Indah.

Tersenyumlah kawan,masa lalu memang usang tapi tanpa masa lalu kita yang sekarang tidak akan pernah ada.

Assalamualaikum,salam manis dari aku yang lahir dari masa lalu.
Semangat!